Blog

Daging Kambing, Kolestrol dan Sederet Mitos di Sekitarnya

Hampir tidak ada yang menyangkal kelezatan olahan daging kambing. Dimasak apapun, kambing pasti ada penikmatnya masing-masing. Tekstur kambing yang lebih lembut menjadi salah satu alasan. Apalagi jika diolah dengan baik –karena tidak semua orang bisa masak daging kambing tanpa bau amis- tentu saja menu itu jadi juara.

Namun banyak juga yang menahan-nahan diri untuk makan kambing. Salah satunya karena daging kambing dianggap berkontribusi besar dalam memperburuk kondisi tubuh, terutama menaikkan kadar kolestrol darah dengan singkat. Padahal kondisinya tidak seserius itu, tergantung bagaimana kita memasak dan menyantapnya.

Mitos seputar kambing dan kebenarannya

Berikut beberapa mitos seputar kambing dan klarifikasinya:

1. Daging kambing = kolestrol + darah tinggi

Inilah mitos yang paling gencar beredar tentang daging kambing. Makan kambing bisa menaikkan koletsrol berlebihan dan dan melonjaknya tekanan darah. Faktanya tidak ada penelitian ilmiah yang menyatakan demikian. Pun pakar kesehatan juga mengamini hal yang sama.

Hanya saja, mengkonsumsi daging kambing berlebihan tentu saja tidak akan baik bagi kesehatan, seperti halnya mengkonsumsi daging merah lainnya. Hal yang perlu diperhatikan kemudian adalah proses pengolahannya. Daging bakar atau rebus tentu saja lebih sehat daripada daging yang digoreng. Bumbu sederhana dan tidak mengandung lemak seperti santan akan membuat masakan daging kambing kita tetap sehat. Juga makan daging kambing sebaiknya bagian daging saja tanpa lemak dan aneka jeroannya. Dan yang terakhir adalah porsinya, tentu saja. Makanlah dengan secukupnya karena semua yang berlebihan itu tidak baik. Jika porsinya banyak, berbagilah.

2. Meningkatkan libido pria

Juga belum ada penelitian akurat yang membenarkan mitos daging kambing dapat meningkatkan libido pria, meskipun hal ini disebutkan serta diceritakan secara turun temurun.

Faktanya, daging kambing mengandung banyak protein, sama seperti daging merah dan sumber protein lainnya. Protein ini salah satu unsur penting dalam produksi hormon testosteron. Nah hormone testosteron inilah yang mempengaruhi libido pria. Mungkin inilah sebabnya mengapa daging kambing dihubung-hubungkan dengan libido pria.

3. Kenikmatan kambing tergantung bagaimana proses pemotongannya

Faktanya enak tidaknya daging kambing tergantung kondisi kambing itu sendiri. Kambing yang dipelihara dengan baik, diberi makanan yang sehat dan bersih tentu saja akan menghasilkan daging yang segar dan bergizi. Satu hal penting lainnya yang memengaruhi kenikmatan daging kambing adalah kondisi psikologis saat akan dipotong. Jika disembelih dalam keadaan stress baik karena dipukul atau ditarik-tarik, dagingnya dipercaya tidak akan begitu enak dimakan. Begitupun dengan pisau yang dipakai menyembelih. Pisau itu haruslah benar-benar tajam agar si kambing tidak menderita.

4. Jauh lebih sehat daripada daging sapi

Secara umum nilai kandungan gizi daging kambing dan daging sapi sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun benar bahwa kandungan asam lemak tak jenuh pada kambing jauh lebih banyak dibanding sapi. Sebaliknya, kandungan lemak jenuh kambing lebih rendah 8 kali dari daging sapi. Protein daging kambing juga lebih tinggi dan berkualitas daripada daging sapi.

5. Daging kambing tidak baik untuk ibu hamil

Nutrisi daging kambing justru baik untuk ibu hamil. Namun jika ragu, sebaiknya ibu hamil dengan riwayat hipertensi dan maag akut tidak mengkonsumsi sama sekali atau mengkonsumsi dalam porsi kecil saja.
Berikut adalah beberapa poin mitos yang berdar di masyarakat beserta klarifikasinya. Semoga membantu Anda untuk tidak benar-benar berpantang mengkonsumsi daging kambing.
Selamat makan kambing, semua! [eq]

Baca Juga: Bisnis kambing raup untung milyaran rupiah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.