Dongeng Anak

Kisah Laa Taghdob Wa Lakal Jannah

Laa Taghdob Wa Lakal Jannah

Kisah Laa Taghdob Wa Lakal Jannah | Alkisah waktu perang Khandaq, umat Islam mendapatkan tantangan dari seorang Quraisy yang bernama Amr bin Abdul Wad. Amr mengajak satu lawan satu. Amr bin Abdul Wad ini dikenal sebagai punya tubuh yang besar dan kuat, sehingga tidak banyak yang berani menerima tantanganya.

Ali Bin Abi Thalib yang Pemberani

Rasulullah SAW lalu menawarkan kepada para sahabat, siapa yang mau menerima tantangan dari Amr bin Abdul Wad. Tidak ada satu pun sahabat yang mengangkat tangan kecuali Ali bin Abi Thalib. Karena waktu itu Ali masih terlalu muda, maka Rasulullah mengulang tawarannya untuk kedua kali hingga sampai tiga kali, ternyata yang mengangkat tangan tetap Ali bin Abi Thalib.

Maka tantangan dari Amr bin Abdul Wad diterima oleh Ali bin Abi Thalib yang masih muda. Terjadilah aksi yang luar biasa antara Ali bin Abi Thalib dengan Amr. Ternyata, walaupun Ali bin Abi Thalib masih sangat muda memiliki kelebihan dan mampu mengatasi keperkasaan Amr bin Abdul Wad, sehingga aksi itu berlangsung seimbang. Hingga pada satu kesempatan, Ali bin Abi Thalib berhasil mengalahkan Amr dan  pedangnya diletakkan di paha Amr bin Abdul Wad. Sampai akhirnya Amr pun jatuh. Walaupun sudah jatuh, Amr tetap berusaha untuk bangkit kembali.

Sebenarnya sangat mudah bagi sahabat Ali bin Abi Thalib untuk membuat Amr tidak punya kekuatan lagi, tapi sahabat Ali bin Abi Thalib pelan-pelan mendekati Amr. Ketika semakin dekat tiba-tiba Amr meludahi wajah Ali bin Abi Thalib sehingga terkena pipinya. Setelah diludahi, Ali bin Abi Thalib  malah mundur pelan-pelan menjauh dari Amr. Sehingga para sahabat yang lain menjadi heran.

Maka ditanyalah Ali bin Abi Thalib, “Wahai Ali, kenapa tidak kau jatuhkan saja Amr bin Abdul Wad. Kenapa justru Engkau berbalik?”

Mendapat pertanyaan demikian, maka Ali bin Abi Thalib pun menjawab, “Saat dia meludahiku dan ludahnya mengenai pipiku, aku marah hebat, aku emosi luar biasa, tetapi aku tidak mau menjatuhkannya dia karena emosiku. Aku akan mejatuhkannya karena Allah SWT, maka aku tunggu sampai aku tidak marah lagi”.

Sehingga pada kesempatan yang lain, Ali berhasil menjatuhkan Amr bin Abdul Wad bukan karena amarah atau emosi, tapi semata-mata karena Allah SWT.

Surah yang berhubungan dengan Kisah Ali Bin Abi Thalib

Sungguh luar biasa, contoh yang diberikan oleh Ali bin Abi Thalib. Dan inilah yang merupakan salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarah.

اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِيْ السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَوَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ، وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“(Dan orang-orang yang bertakwa itu adalah) mereka yang menafkahkan hartanya, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit, dan menahan amarahnya, serta memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah adalah Dzat yang mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan,” (QS. Ali Imran: 134).

Tentu Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah orang yang sangat bertakwa kepada Allah. Maka dia hapus amarahnya, karena dia tidak mau berbuat sesuatu adalam keadaan marah atau emosi

Saat ini , banyak orang yang menganggap bahwa dengan marah maka dia akan terlihat lebih hebat dan menang terhadap orang lain. Bahkan ada juga orang yang merasa senang bisa marah karena merasa kuat ketika beradu dengan orang lain.

Padahal sesungguhnya kekuatan itu bukan terletak pada orang yang marah. Nabi SAW bersabda :

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالسُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَالْغَضَبِ

Bukanlah orang yang kuat, yang selalu menang dalam sebuah pertarungan. Menang dalam setiap perkelahian. Sesungguhnya orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menahan emosi, mampu menahan nafsu, ketika dia sedang marah?”

Hal itu karena sesungguhnya kemarahan itu percikan api syaiton. Jadi sesungguhnya orang yang sedang marah, dia dikelilingi oleh setan-setan.

Mari Adik-adik, kita belajar menahan marah. Jika kita mendapatkan kondisi yang tidak sesuai dengan apa yang menurut kita benar. Maka latihlah diri adik-adik untuk tetap tenang menghadapi kondisi yang diluar dari apa yang benar menurut Adik-adik.

Karena Allah sangat membanggakan orang yang mampu menahan amarah. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَي أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللهُ عَزَّوَجَلَّ عَلَي رُؤُوْسِ الْخَلَائقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخْبِرَهُ مِنَالْحُوْرِ الْعِيَنِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa yang dapat menahan kemarahan, padahal dia mampu untuk melakukannya. Maka Allah Swt. akan memanggilnya kelak dihadapan para makhluk yang lain pada hari kiamat. Sehingga Allah membiarkannya untuk memilih bidadari mana yang dia sukai.”

Artinya, makhluk yang dapat menahan amarah adalah makhluk yang sangat istimewa dihadapan Allah. Sehingga dia dibanggakan oleh Allah dihadapan makhluk-Nya yang lain.

Orang-orang yang terbiasa menahan amarah, maka jiwa nya pun senantiasa sehat dan bugar. Karena amarah adalah ciri khas dari Syaiton, dan syaiton lah yang menjadi sumber dari munculnya penyakit-penyakit dari dalam dari kita.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

Maka jika kita bisa menjaga hati kita, salah satunya dengan menahan marah. Maka Insya ALLAH tubuh Adik-adik tetap terjaga sehat dan tentunya dengan tbuh yang sehat Adik-adik punya banyak energi untuk bermain dan berjalan-jalan dengan penuh semangat kapan pun dan dimanapun.

Hadiah terbesar dari seseorang yang bisa menahan marah adalah :

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ.
“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga”

Baca Juga : Ekonomi Syariah

#30DEM

#30dayemakmendongeng

#arrayyanagency

#pejuangpropertisyariah

#janganmarah

#berkisah

#parentingsirah