Dongeng Anak

Kisah Menabung untuk Berinfaq, Bukan Menumpuk Harta

Assalamualaikum

Namaku Rayyan. Usiaku 10 tahun.  Sejak kecil hingga sekarang,  Mamaku selalu menyediakan celengan-celengan di rumah. Tapi mama menyebutnya celengan Infaq. Sejak kecil pula, jika melihat recehan-recehan di tas mama. Saya langsung berlarian, mencari celengan infaq itu sambal teriak “Mamaaaa, Kaka punya infaq ini. Mana celengan infaqnya mamaaa”. Adikku juga selalu mengikuti berbuat hal yang sama. Tak ayalm setiap recehan yang bunyi menjadi rebutan kami untuk mengisi celengan infaq kami

Sejak masuk sekolah di kelas 1 SD, ada hal yang berbeda dengan yang diajarkan oleh Mamaku. Sekali lagi tentang tema celengan itu. Di sekolah, teman-temanku bercerita bahwa mereka senang menabung, dan hasil tabungannya pun digunakan untuk membeli mainan yang mereka senangi.

Menyenangkan sekali mendengar cerita mereka. Karena mainan yang dibeli dari hasil tabungan mereka pun sangat bagus-bagus.

Saat itulah aku kembali ke rumah. “Mamaaaa, celengan infaq Kakak mana.. ?”. Mamaku pun lalu mengambilkan celengan itu. Lalu aku sampaikan ke Mama. Isinya mau aku pakai beli mainan, tidak mau aku infaqkan. Pikirku, kasih ke orang untuk dinfaqkan, aku tak dapat apa-apa.

Mama tampak berfikir sejenak, sepertinya akan mengabulkan keinginanku. Lalu Beliau bertanya padaku, “Kakak Rayyan, selama ini berinfaq karena apa.. ?” .

“Supaya Disayang ALLAH, Mama”.

Mamaku tersenyum, tanpa perlu ditanya lagi oleh Mama. Kulanjutkan jawabanku tadi

“Disayang ALLAH, supaya bisa masuk Surga, Mama. Masuk Surga, disana akan dapat lebih banyak mainan” jawabku dengan lancar.

Kami lalu tertawa bersama. Iyah, saya sangat paham maksud mama. Karena hampir setiap hari Mama mengingatkan kepadaku dan pada adik-adikku. Kenapa kami semua mesti jadi anak santun.

Mama melanjutkan, “Bukankah selama ini, Kakak selalu dapat mainan yang tiba tiba saja selalu datang, bisa dari Mama atau Papa , atau bisa juga dari teman-teman Kakak yang datang”

“Nah, itu karena Kakak senang berinfaq, sehingga ALLAH kasih mainan gratis lewat Mama, Papa atau teman-teman tanpa harus susah payah mengumpulkan tabungan dulu baru beli mainan” Lanjut Mama.

“Iyah Mama, seperti kemarin Kakak mau punya mainan mobil, kata Mama kan. Kakak sabar, berdoa saja. Lalu ada teman yang kasih Kakak Mobil esok harinya. Wah ajaib ya Ma.” Sahut ku dengan penuh semangat”

“Apalagi kalo di Surga, Kakak….” ,

Aku langsung memotong pembicaraan Mama, dan dengan lantang menjawab “Tinggal bilang mau mainan, ALLAH akan langsunggggg kasi didepan Kakak, senangnya……”

“Maka Kakak ayo semangat lagi isi celengan infaqnya, setelah penuh kita infaqkan ke teman-teman yang butuh, anak yang senang berinfaq berarti akan Disayang ALLAH, dan Insya ALLAH akan masuk di SurgaNYA” Mama sambil tersenyum.

Lalu aku mengusulkan, bisakah infaq ini nantinya aku belikan mainan untuk kuberikan kepada teman-teman ku yang belum punya mainan. Dan kami bisa bermain bersama. Mama langsung memelukku dan berbisik “Itu Ide yang luar biasa, bisa bermain dan punya lebih banyak teman lagi”

Sejak saat itulah, aku semakin semangat mengisi celengan infaq di rumah. Ternyata benar yang dikatakan Mama, aku memang tidak begitu punya banyak mainan di rumah. Tapi aku punya banyak teman yang mengajakku bermain. Ada kala, infaq di rumah aku belikan buku-buku lalu kuajak temanku ramai-ramai membaca di rumah. Istilah Mama, “Kita mau berinfaq ilmu, Kakak Rayyan”

Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya (dapat) mengekalkannya.”

[Al-Humazah: 1-3]

“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan’. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Mengetahuinya.”
[Al-Baqarah: 215]

Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah menyimpan harta atau benda lainnya. Anas bin Malik berkata, ”Rasulullah saw tidak menyimpan sesuatupun untuk hari esok.”

Rasulullah SAW tidak pernah merasa khawatir dengan kemelaratan melebihi kekhawatiran beliau tentang harta dan kekayaan. Beliau juga tidak senang dengan penumpukan harta. Sabdanya,  bahwa beliau tidak pernah membiarkan di rumahnya Ada tiga dinar yang lalu dikumpulkan dengan dinar lain,  kecuali digunakan untuk melunasi amanah (hutang)

Mari menabung untuk bisa dimanfaatkan atau membantu orang lain.

Mari memiliki harta yang bisa ditujukan untuk kepentingan banyak orang.

#30DEM

#30dayemakmendongeng

#day16

#investasisyariah

#arrayyanagency

#pejuangpropertisyariah